Berita Terkini
Bengkulu - Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Teguh Santosa, menginstruksikan seluruh jajarannya untuk kembali menggencarkan kampanye pengusutan kasus penembakan terhadap tokoh pers Bengkulu, Rahimandani. Hal itu ditegaskannya dalam pelantikan Pengurus Daerah JMSI Provinsi Bengkulu di Hotel Mercure, Senin, 27 April 2026.
Teguh menilai penanganan kasus yang menimpa Sekretaris Jenderal JMSI tersebut kini kehilangan arah. Meski sempat memberikan apresiasi di awal penyelidikan, ia menyayangkan Polda Bengkulu yang hingga kini belum juga berhasil mengungkap identitas pelaku maupun aktor intelektual di balik peristiwa berdarah tersebut.
”Awalnya kami sangat mengapresiasi kerja Polda. Namun, sampai hari ini, titik terangnya semakin buram,” ujar Teguh usai menyaksikan penandatanganan nota kesepahaman antara JMSI Bengkulu dengan Kanwil HAM Sumsel-Bengkulu.
Bagi Teguh, belum tertangkapnya pelaku bukan sekadar utang kasus kepolisian, melainkan teror yang berkepanjangan bagi korban.
“Bung Rahimandani hidup dalam bayang-bayang. Ia tidak bisa tidur nyenyak, harus selalu waspada dan merasa terancam setiap kali keluar rumah. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan,” tegas mantan Wakil Rektor Universitas Bung Karno tersebut.
Jejak Luka di Pematang Gubernur
Tragedi yang menimpa Rahimandani terjadi pada Jumat siang, 3 Februari 2023. Saat itu, pendiri Rakyatdaerah.com yang juga Rektor Universitas Pat Petulai Rejang Lebong ini sedang berjalan kaki menuju masjid di kawasan Pematang Gubernur, Kota Bengkulu.
Dua orang tak dikenal yang mengendarai sepeda motor dan mengenakan helm tertutup tiba-tiba melepaskan tembakan. Timah panas bersarang di bahu dan tangannya, menyebabkan luka serius yang membutuhkan perawatan intensif. Cara kerja pelaku yang rapi dan cepat memicu dugaan bahwa penembakan dilakukan oleh profesional.
Kini, memasuki tahun 2026, kasus tersebut seolah membatu. Teguh Santosa menekankan bahwa JMSI tidak akan berhenti bersuara hingga keadilan bagi tokoh Muhammadiyah Bengkulu tersebut terpenuhi.
”Saya minta kawan-kawan di JMSI kembali mengampanyekan pengungkapan peristiwa ini. Kita harus menagih kejelasan,” pungkas Ketua Asosiasi Persahabatan Indonesia-DPRK tersebut.(*)