Berita Terkini
Penarafflesia.com, Mukomuko - Seyogyanya program dari Pemerintah Pusat yang diluncurkan melalui Dana Desa (DD), bersentuhan dan memiliki azas manfaat untuk masyarakat secara umum. Tidak hanya sebatas rencana atau tiori belaka. Tahun 2022 lalu, Desa Sumber Sari, Kecamatan Air Dikit, Kabupaten Mukomuko, menganggarkan ratusan juta untuk program ketahanan pangan, yang diketahui untuk membudidayakan beni ikan nila 2 kelompok, dan ternak hewani Sapi 4 kelompok, serta di bidang hortikultura 2 kelompok, jadi keseluruhan ada 8 kelompok, dan hingga saat ini progres pengembangan program tersebut tidak jelas, bahkan kabarnya, program ini diduga gagal, lantaran benih ikan tidak ada hasil, dan sapi pun ada yang hilang dan mati, serta budidaya hortikultura juga tidak jelas, tentunya dengan kejadian tersebut, menjadi perhatian masyarakat secara umum, sebab program tersebut menelan anggaran yang cukup besar.
"Untuk bibit benih ikan sekitar 8 ribuan, kalau belinya gak sama ada yang besar dan ada yang kecil juga, dengan anggaran Rp 17.500.000 (Tujuh Belas Juta Lima Ratus Ribu Rupiah), beserta pakan dan belum di potong pajak, kesalahannya kemaren itu keburu yang dari Desa nyuruh saya melihara ikan sebanyak mungkin, giliran selesai dibeli belum ada separuh perjalanan berhenti pendanaan di situ kacaunya kemaren itu, terus mau makan apa lagi ikan," beber salah satu ketua kelompok, Sriono.
Masih dirincikan oleh ketua kelompok, Sriono, bahwa denga dana segitu tidak cukup untuk memenuhi pakan ikan sebanyak itu.
"untuk harga bibit sekitar Rp 250 (Dua Ratus Lima Puluh Rupiah) per ekor, untuk bibit ikan sekitar 8 ribuan, dan untuk sewa kolam senilai Rp 1.000.000 ( Satu Juta Rupiah) per kolam sampai panen, dan menyewa 5 kolam, dan juga ada pembelian pipa, waring untuk penutup kolam habis sekitar Rp 3.000.000 (Tiga Juta Rupiah), dan sisanya untuk beli pakan manalah nyampai ikan sebanyak itu, di umur dua bulan setengah kegagalan sudah mulai nampak, dan di bulan ke empat habis total," jelasnya.
Terpisah salah satu ketua kelompok yang mengelola hewani Sapi, untuk di kelompok nya sudah tidak ada lagi fisiknya, lantaran sapi yang kami pelihara terserang penyakit dan di sembelih untuk dibagikan ke masyarakat daging nya, dan itu sudah ada laporan ke pihak pemdes secara lisan
"Untuk sapi di kelompok kami sudah tidak ada lagi, karna sakit dan kita takut mati, kita langsung sembelih untuk dibagikan ke warga daging nya, dan itupun sudah ada laporan secara lisan ke Kades," sampai ketua kelompok yang kerap di panggil Oyon.
Saat dikonfirmasi beberapa waktu lalu Kades Sumber Sari Sabarrudin, membenarkan, untuk budidaya ikan nila, banyak yang mati dan rasio bibit dengan pakan tak seimbang, untuk hewani Sapi, juga tidak jelas dari kelompok nya ada yang hilang dan ada yang mati, terkait berapa yang masih ada, dirinya mengaku tidak pernah tau lantaran tidak ada laporan dari masing - masing kelompok, begitu juga kelompok yang membudidaya Hortikultura juga tidak jelas hasilnya.
"Untuk budidaya ikan Nila habis tidak ada hasil sama sekali, karna rasio bibit dan pakan tidak seimbang, kalau hewani Sapi ada laporan yang hilang dan juga ada laporan adanya mati diserang penyakit, dan juga Hortikultura pun begitu juga tidak ada hasil," katanya.
Masih dilanjutkannya, terkait laporan dari setiap kelompok dari awal sampai sekarang tidak ada, seperti hewani Sapi itu dirinya tidak mengetahui berapa yang masih hidup, dikernakan kelompok tidak pernah laporan.
"Untuk laporan dari kelompok selama ini tidak ada, seperti kolam ikan Nila dari awal tidak ada laporan matinya kerna apa, dan berapa mati nya per hari, untuk sapi cuma ada laporan kehilangan dan kematian saja, yang masih hidup sampai sekarang saya tidak mengetahui berapa ekor, karna tidak ada kelompok yang melapor," tutup Sabarrudin. (Suryadi)