Skip to main content

Pemkab Bengkulu Selatan Gelar Tradisi Nujuh Likur untuk Salam Perpisahan dengan Ramadan

Pemkab Bengkulu Selatan Gelar Tradisi Nujuh Likur.
Pemkab Bengkulu Selatan Gelar Tradisi Nujuh Likur.

Penarafflesia.com - Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan menggelar tradisi Nujuh Likur, yang merupakan ritual tradisional membakar tempurung kelapa yang disusun menjadi satu, yang dikenal dengan sebutan Lunjuk oleh warga setempat. Tradisi ini diadakan sebagai tanda perpisahan dengan bulan Ramadan.

Nujuh Likur, sebuah tradisi turun-temurun dari warga Serawai di Bengkulu Selatan, termasuk daerah Seluma dan Kaur, diadakan setiap malam 27 bulan Ramadan. Kegiatan ini direncanakan berlangsung di lapangan Sekundang Setungguan setelah Salat Terawih malam nanti.

Ratusan Lunjuk telah disiapkan oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Lingkungan Pemkab Bengkulu Selatan untuk kegiatan ini.

Bupati Gusnan Mulyadi menyatakan bahwa Nujuh Likur adalah kegiatan kedua kalinya yang diadakan oleh Pemkab Bengkulu Selatan. Ini merupakan tradisi warisan nenek moyang sebagai tanda akan berakhirnya bulan Ramadan.

"Iya, sudah dua kali selama saya menjabat. Ini merupakan bentuk dari peninggalan atau tradisi dulu zaman nenek moyang setiap atau tanda akan berakhirnya bulan Ramadan," ungkap Gusnan.

Gusnan berharap bahwa tradisi Nujuh Likur tidak hanya terpusat di lapangan Sekundang Setungguan, tetapi juga dilakukan oleh seluruh masyarakat dengan membakar Lunjuk di depan rumah masing-masing.

"Berharap masyarakat di mana pun berada, khususnya masyarakat Bengkulu Selatan, juga ikut bergembira sebagai tanda akan selesainya bulan Ramadan dengan bersama-sama membakar Lunjuk di depan rumah masing-masing seperti dulu," ujar Bupati.

Meskipun belum mengetahui secara rinci filosofi di balik tradisi membakar batok tempurung yang disusun menjadi Lunjuk ini, Gusnan menegaskan bahwa secara umum, tradisi ini merupakan simbol kegembiraan menyambut berakhirnya bulan Ramadan. (Adv)

  • rica store

Berita Terkini