Skip to main content

BKKBN Bengkulu Galakan Pencegahan Stunting

Kepala BKKBN Bengkulu M Iqbal Apriansyah.
Kepala BKKBN Bengkulu M Iqbal Apriansyah.

Penarafflesia.com - Stunting adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan nutrisi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan fisik pada anak dan perkembangan otak. Sehingga menjadi salah satu penyebab tinggi badan anak terhambat, sehingga lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya. 

"Stunting memang bukan penyakit, namun sebuah kondisi kesehatan bayi dua tahun (baduta) yang mengalami gagal pertumbuhan fisik maupun perkembangan otak anak. Dan kondisi fisik anak terganggu dapat membunuh masa depan anak bangsa," kata Pelaksana tugas Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu M. Iqbal Apriansyah saat kampanye percepatan penurunan stunting di Desa Suka Negeri, Kecamatan Air Nipis, Kabupaten Bengkulu Selatan, Minggu (10/9/23).

Mengacu dari besarnya ancaman terhadap pembangunan nasional, pemerintah secara gencar menggaungkan kampanye penurunan stunting di sejumlah daerah provinsi di tanah air tidak terkecuali di Provinsi Bengkulu yang angka stunting masih sebesar 19,8 persen (SSGI-2022).

Akhir pekan pertama September-2022 Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Bengkulu bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) turun kampanye percepatan penurunan stunting di Kampung Keluarga Berkualitas (KB) Desa Suka Negeri, Kecamatan Air Nipis, Kabupaten Bengkulu Selatan. 

Pada kampanye tersebut hadir Plt. Kepala Perwakilan BKKBN Bengkulu M.Iqbal Apriansyah, Anggota Komisi IX DPR RI Elva Hartati, Kepala DP3APPKB Bengkulu Selatan Ferry Kusnadi serta pemerintahan kecamatan dan desa setempat serta ratusan kelompok pasangan usia subur (PUS) muda dan remaja ikuti sosialisasi pencegahan stunting.

Dikatakan Iqbal, sosialisasi yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pencegahan stunting diramaikan 350 orang peserta yang didominasi kelompok umur muda, yaitu PUS dan remaja sebagai kelompok rentan melahirkan generasi stunting.

"Kampanye ini sebuah bentuk komitmen bersama DPR RI dalam penurunan stunting, dan ini harus lebih ditekan kepada segenap lapisan masyarakat agar ikut serta untuk berperan memberikan manfaat dalam pembangunan kependudukan," terangnya. 

Pencegahan stunting harus dimulai dari dalam keluarga yaitu lingkungan keluarga sebagai tempat pendidikan dasar upaya menciptakan generasi yang lebih baik. Sosialisasi ini agar menjadi motivasi bersama untuk meningkatkan kualitas keluarga, harap Iqbal. 

Kesempatan yang sama, Anggota Komisi IX DPR RI Elva Hartati didepan ratusan peserta menyampaikan agar masyarakat untuk bersama mengambil peran dalam pencegahan stunting. Yang dapat dilakukan mulai dari kelompok remaja, calon pengantin, ibu hamil dan menyusui.

Remaja agar menghindari pernikahan usia anak dengan terus mencari ilmu melalui pendidikan formal agar fokus sekolah sehingga terhindar dari pernikahan usia anak, selain pendewasaan usia kawin, media lainnya mencegah stunting yaitu dengan pemenuhan gizi sejak jani hingga anak berusia dua tahun, ujar Elva.

Ditempat yang sama Kepala Dinas DP3APPKB Kabupaten Bengkulu Selatan Ferry Kusnadi menyampaikan bahwa pemerintah daerah kabupaten setempat menggandeng sejumlah instansi pemerintah, swasta dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama mengambil bagian dalam pencegahan stunting yang sesuai dengan tugas pokok dan fungsi.

"Pemerintah desa bagian dari unsur pemerintahan yang paling depan bersama masyarakat untuk berkolaborasi dalam penurunan stunting baik melalui peran intervensi sensitif dan spesifik oleh pemerintah dapat menggunakan anggaran yang ada di desa. Untuk memberikan dukungan fisik maupun non fisik dalam pencegahan stunting" demikian. (irs)

  • rica store

Berita Terkini