Skip to main content

Kopi Merah Putih, Gubernur Helmi Hasan Dorong Petani Kopi Naik Kelas

Penanaman Kopi Merah Putih di Desa Mangku Rajo, Kecamatan Lebong Selatan, Kabupaten Lebong, Sabtu (7/2). (poto dok: MC)
Penanaman Kopi Merah Putih di Desa Mangku Rajo, Kecamatan Lebong Selatan, Kabupaten Lebong, Sabtu (7/2). (poto dok: MC)

LEBONG – Gubernur Bengkulu Helmi Hasan menegaskan Program Kopi Merah Putih sebagai langkah strategis Pemerintah Provinsi Bengkulu untuk mengangkat posisi petani kopi dari sekadar produsen bahan mentah menjadi pelaku usaha bernilai tambah yang berdaya saing dan sejahtera.

Penegasan tersebut disampaikan Gubernur Helmi Hasan saat peluncuran penanaman Kopi Merah Putih di Desa Mangku Rajo, Kecamatan Lebong Selatan, Kabupaten Lebong, Sabtu (7/2).

Helmi Hasan menekankan, pemerintah tidak ingin petani terus terjebak pada rantai produksi paling bawah. Petani harus didorong menjadi subjek utama dalam pengelolaan, pengolahan, hingga pemasaran kopi.

“Petani kita harus naik kelas, dari petani berdaki menjadi petani berdasi. Pemerintah hadir bukan hanya memberi program, tetapi memastikan pendampingan berjalan tuntas dan petani mendapatkan harga terbaik,” tegas Helmi Hasan.

Sebagai bentuk keseriusan, Pemerintah Provinsi Bengkulu membentuk Kelompok Kerja (Pokja) Kopi Merah Putih yang bertugas melakukan pendampingan menyeluruh dan berkelanjutan, mulai dari hulu hingga hilir.

Pada tahap awal, Program Kopi Merah Putih dikembangkan di lahan seluas 20 hektare. Program ini merupakan hasil kerja selama satu tahun yang melibatkan berbagai pihak, termasuk pendampingan dari Prof. Eggy Mahardika, serta berangkat dari aspirasi petani kopi Bengkulu yang selama ini menghadapi persoalan ketidakstabilan harga, meskipun produksi kopi tergolong baik.

Gubernur menegaskan, keberhasilan program ini sangat ditentukan oleh kesungguhan petani dalam mengelola kebun secara profesional.

“Pemerintah akan terus mendampingi petani, mulai dari penanaman, pengolahan pascapanen, hingga pemasaran. Ini bukan program seremonial, tapi ikhtiar jangka panjang,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Prof. Eggy Mahardika mendorong petani untuk menerapkan teknik pertanian modern guna meningkatkan produktivitas dan kualitas panen. Menurutnya, pemanfaatan teknologi dan metode budidaya yang tepat menjadi kunci agar kopi rakyat mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Argo Mulya, Slamet, menyampaikan kebutuhan petani terhadap alat dan mesin pertanian (alsintan) sebagai penunjang utama produksi. Ia berharap pendampingan pemerintah tidak berhenti pada tahap penanaman semata.

“Kami berharap tidak hanya dibantu di awal, tetapi benar-benar didampingi sampai program ini menghasilkan dan meningkatkan kesejahteraan petani,” ungkapnya.

Program Kopi Merah Putih merupakan inisiatif pengembangan perkebunan rakyat yang bertujuan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian. Selama ini, sebagian besar petani kopi di Kabupaten Lebong masih menjual hasil panen dalam bentuk bahan mentah.

Melalui pengolahan dan pemasaran yang lebih profesional, Kopi Merah Putih diharapkan tumbuh sebagai produk unggulan daerah sekaligus menjadi instrumen nyata peningkatan kesejahteraan petani kopi Bengkulu.

  • rica store

Berita Terkini