Berita Terkini
Bengkulu – Kisah menyentuh dua kakak beradik asal Parung, Kabupaten Bogor, Muhammad Haikal Alfarizi (18) dan Haezar Alzikri (15), viral di media sosial dan menyentuh hati banyak orang.
Mereka terpaksa bergantian memakai seragam pramuka setiap hari Kamis karena keterbatasan ekonomi. Haikal duduk di bangku kelas 12 SMK, sementara Haezar di kelas 9 SMP. Keduanya tinggal bersama ibu yang mengalami gangguan kejiwaan dan nenek yang sudah lanjut usia. Ayah mereka telah meninggal dunia sejak 2020.
Kisah ini menjadi potret nyata dari kondisi pendidikan yang masih diwarnai ketimpangan sosial. Walaupun Indonesia telah banyak mengalami kemajuan dalam infrastruktur dan sistem pendidikan, namun disisi lain masih ada anak yang berjuang hanya untuk bisa berangkat ke sekolah.
Haikal dan Haezar sempat harus mengatur waktu agar bisa berbagi satu seragam dan satu pasang sepatu. Namun setelah video mereka viral, bantuan mulai berdatangan, termasuk dari relawan dan pemerintah. Kini mereka telah mendapatkan seragam, sepatu, alat tulis, dan biaya pendidikan dari berbagai pihak.
Kisah ini menimbulkan pertanyaan besar, bagaimana dengan kondisi pendidikan di daerah lain. Pemerintah Provinsi Bengkulu, di bawah kepemimpinan Gubernur Helmi Hasan, tengah berfokus pada upaya pemerataan akses pendidikan, terutama bagi masyarakat miskin dan daerah terpencil. Sala satu program helmi Hasan adalah Pendidikan dan kesehatan gratis yang berkualitas melalui program Merdeka Ijazah.
Pemprov Bengkulu dikepemimpinan Helmi Hasan saat ini sudah berupaya memastikan bahwa tidak ada anak yang putus sekolah karena alasan ekonomi.
Sejak dilantik, Gubernur Helmi Hasan menetapkan visi besar untuk menjadikan Bengkulu sebagai provinsi yang memerdekakan rakyatnya dari beban biaya pendidikan dan kesehatan. Melalui program “Merdeka Ijazah”,.
Pemerintah Provinsi Bengkulu memberikan akses pendidikan gratis dan berkualitas dari tingkat dasar hingga menengah, termasuk penyediaan perlengkapan sekolah dan biaya operasional yang ditanggung pemerintah.
Program ini juga mencakup jaminan layanan kesehatan gratis, khususnya bagi masyarakat miskin dan rentan, melalui integrasi layanan Puskesmas, RSUD, dan sistem rujukan yang semakin efisien.
Namun, di tengah semangat itu, dunia pendidikan Bengkulu sedang diuji. Sebanyak 73 siswa SMA Negeri 5 Kota Bengkulu terancam tidak dapat mengikuti kegiatan belajar-mengajar secara normal karena belum terdaftar resmi dalam sistem Dapodik (Data Pokok Pendidikan).
Masalah ini muncul setelah siswa-siswa tersebut mengikuti proses PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) tahun ajaran 2025/2026, namun diduga tidak terakomodasi dalam kuota resmi sekolah. Orang tua siswa menyebut anak-anak mereka sudah mengenakan seragam dan mengikuti kegiatan awal sekolah, namun belakangan dinyatakan "tidak terdaftar resmi".
Kisah Haikal dan Haezar serta polemik di SMA Negeri 5 menjadi dua sisi mata uang yang menggambarkan realitas pendidikan di Indonesia. Di satu sisi, ada komitmen dan program luar biasa dari pemerintah seperti “Merdeka Ijazah”. Namun di sisi lain, masih ada praktik birokrasi dan administrasi yang menyulitkan akses pendidikan bagi masyarakat.
redaksi