Berita Terkini
Opini, Penarafflesia.com - Seorang politikus tanpa gagasan, bagaikan menelurkan kepemimpinan tanpa arah. Tak tahu mau di bawa kemana bangsanya, ketika penobatan pemimpin jatuh di pundaknya. Sejatinya gagasannya sangatlah perlu bagi masyarakat, guna mempertimbangkan kemana pilihan mereka (rakyat) kelak. Gagasan menjadi kapasitas bagi seorang calon pemimpin dalam memahami, serta menawarkan solusi ketika muncul permasalahan di pemerintahannya.
Mengingat kontestasi politik yang tak lama lagi, sudah saatnya kita mulai mendengar gagasan para capres. Apakah gagasan yang mereka tawarkan mampu membawa negara serta ratusan juta penghuninya ke kemaslahatan, atau tidak.
Seperti yang kita tahu, jika saat ini ada tiga kandidat capres yang namanya kerap berkelintaran di setiap linimasa media sosial. Mereka adalah Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto. Dari ketiga gambaran tersebut, kita sudah bisa mengkonsumsi beragam gagasannya.
Lewat tayangan Mata Najwa yang belum lama ini menghadirkan ketiganya dalam rangka mengurai gagasan, ketiga para capres tampil di panggung gagasan untuk menyampaikan ideologinya. Dari ketiganya, hanya Ganjar yang memaparkan gagasan paling rasional dan revolusioner. Sedangkan Anies dan Prabowo hanya sebatas memberikan argumentasi retorika belaka, pun keduanya tidak luput dari pernyataan yang blunder.
Dan kini, bacapres tersebut kembali hadirkan dalam agenda Ideafast 2023, bertajuk “Membangun Kepemimpinan Dalam Diri Bersama.”
Kita urai terlebih dahulu gagasan yang disampaikan dari capres oposisi pemerintah. Di panggung Ideafast bersama beberapa panelis, MC serta penonton, pertanyaan silih berganti menyambangi Anies. Ketika diberikan pembahasan seputar tanggapannya mengenai Golput, dengan santainya bapak politik identitas ini memberikan himbauannya supaya menilik rekam jejak.
Tak perlu susah payah menggali jejak jejaknya, sebab di internet pun sudah mencetuskan bila Anies adalah “Gubernur Terbodoh” versi Mbah Google. Bukan hanya di dunia maya saja, namun dunia nyata pun juga selaras dengan jawaban Mbah Google.
Tak sedikit kegagalan yang munculkan Anies, ketika masih menjadi Gubernur di DKI. Ketidakbecusannya dalam memimpin Kota Metropolitan itu menjadi bukti jika Anies bukanlah pemimpin dengan rekam jejak gemilang.
Tengok saja peninggalannya berupa sumur resapan, yang bertujuan supaya air hujan terparkir disana. Selain udara, keberadaan sumur resapan malah membawa petaka bagi para pengendara. Seperti kejadian truk molen terperosok dan amblas di sumur resapan pada akhir tahun lalu.
Selain itu, koar-koar saat kampanyenya yang ingin menaikkan perekonomian warga DKI lewat OK OCE. Namun kenyataannya, program tersebut gagal. Bahkan pernah dikritik oleh Jonny G. Plate, politikus asal NasDem yang saat ini tengah mendekam di balik dinginnya jeruji besi, karena korupsi.
Lucu memang Anies Baswedan ini, selalu menggelontorkan kalimat-kalimat dengan diksi luar biasa bagusnya. Namun secara tidak langsung untaian katanya itu malah mematahkan keyakinan masyarakatnya, lewat rekam jejaknya yang cacat.
Di saat Anies berseloroh soal rekam jejak, yang pada kenyataannya hanya mempermalukan dirinya sendiri. Ada Ganjar yang benar-benar telah membuktikan apabila ia memiliki rekam jejak yang mentereng, lewat segudang keberhasilannya dalam membangun wilayah garapannya di Jawa Tengah.
Anies dan Ganjar memang sama-sama pernah mengenyam lembaga eksekutif, dengan menjalani mandat sebagai gubernur DKI dan Jawa Tengah. Meskipun mengemban jabatan serupa, bukan berarti anggaran yang diberikan juga sama. Justru berbanding terbalik, DKI yang menjadi Ibu Kota negara sudah pasti mendapat perolehan APBD lebih besar, dibandingkan Jateng.
Namun kenyataannya, tak banyak perubahan di DKI selama kepemimpinan Anies. Berbeda dengan Ganjar, yang telah menyulap wilayah garapannya di Jateng menjadi provinsi berkemajuan, selama 10 tahun ini.
Lihat saja gebrakannya lewat program-programnya yang membawa kemaslahatan. Mulai dari penerapan sistem EBT, yang memanfaatkan sumber daya alam. Kehadiran sumber energi baru terbarukan membuat ribuan rakyat di Jawa Tengah mandiri energi. Sehingga rakyat bisa mengurangi ketergantungannya pada pasokan listrik, maupun gas elpiji.
Kemudian gagasannya terkait SMK N Jateng. Sekolah gratis ini di peruntukan bagi rakyat tidak mampu mendapatkan pendidikan. Kehadiran sekolah ini juga sebagai strategi Ganjar dalam upaya memeratakan pendidikan.
Beragam jurusan tersedia di SMK N Jateng, mulai dari teknik industri, listrik, otomotif sampai permesinan pun ada. Terbaru, Ganjar belum lama ini telah meresmikan SMK dengan jurusan EBT. Sehingga harapannya kedepannya, lulusan ini mampu mengembangkan program mandiri energi seperti yang sudah digalakan Ganjar. Serta mampu terserap di perusahaan penyuplai baterai mobil listrik.
Langkah Ganjar dalam mendorong kualitas dan kualitas SDM melalui pendidikan, juga merupakan upayanya untuk melanjutkan hilirisasi pemerintahan. Karena dengan terciptanya SDM unggul dan terampil, maka akan semakin besar pula tenaga di negeri yang mampu melanjutkan program pemerintahan. Sehingga Indonesia akan menjadi tuan rumah di negara sendiri dapat tercapai.
Pemaparan di atas hanya sebagian kecil dari prestasi melanglang buana Ganjar, sebab masih beragamnya keberhasilannya dalam membangun Jateng Gayeng. Berdasarkan dua program Ganjar tadi, tentu bisa sandingkan dengan Anies. Manakah yang menorehkan rekam jejak gemilang, dan mana yang hanya sebatas retorika belaka.
Di sisi lain saya juga di buat penasaran dengan kemana perginya Prabowo? Di saat dua bacapres tengah menawarkan sekelumit gagasannya, namun Prabowo sama sekali tidak terlihat batang hidungnya.
Mungkinkah pak Menhan ini merasa ketar-ketir jika harus berhadapan dengan anak muda? Apakah Prabowo takut dicecar dengan pertanyaan seputar modernisasi dan digitalisasi, yang mungkin kurang ia pahami?
Seperti argumentasinya soal solusi kesehatan mental dengan makan gratis. Padahal porsinya, makan gratis bukanlah solusi tepat dalam penanganan kesehatan mental. Harusnya intervensi yang pas adalah memberikan ruang berekspresi kepada mereka yang mengalami kesehatan mental, atau bisa juga dengan pembiasaan self love.
Aneh, tapi nyata. Ya seperti itulah gagasan Prabowo. Tapi sayang, kemarin beliau ini malah tidak hadir. Padahal rakyat sangat ingin mendengarkan gagasan yang dibawakannya. Kira-kira rasional atau tidak.
Semoga saja kita selalu beri kewarasan ketika mendengarkan gagasannya. Tetap konsen dan fokus kala menyimak program-program yang dibawakannya, sebab pak Menhan ini punya jurus mengelabui lewat jogetannya yang secara tiba-tiba mampu mengalihkan jawaban.
Oh iya, selalu sematkan pesan Anies untuk memilih berdasarkan rekam jejaknya. Hehehehe...
***
Kiki Daliyo, Opini disiarkan di media sosial.