Berita Terkini
BENGKULU – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) ditengah musim kemarau panjang menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Bengkulu.
Wakil Gubernur Bengkulu Mian mengingatkan seluruh pelaku usaha, terutama sektor perkebunan dan pertambangan, agar tidak membuka maupun mengelola lahan dengan cara membakar.
Langkah pencegahan diperkuat menyusul ancaman fenomena El Niño yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran, memicu munculnya titik panas, hingga menimbulkan kabut asap yang mengancam kesehatan masyarakat.
Pemprov Bengkulu bahkan telah menerbitkan surat edaran kepada pelaku usaha sebagai langkah antisipasi agar kebakaran tidak meluas selama musim kemarau.
“Begitu ada ancaman El Niño dan musim kemarau panjang, Pemerintah Provinsi Bengkulu telah mengantisipasinya dengan menerbitkan edaran pencegahan kebakaran kepada seluruh pelaku usaha, baik sektor perkebunan, pertambangan, maupun sektor lain yang berpotensi mengalami kebakaran,” ujar Mian, Selasa (20/10).
Menurut Mian, pencegahan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Pengawasan harus melibatkan seluruh unsur, mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha, masyarakat, hingga aparat keamanan.
Koordinasi lintas sektor bersama tim kehutanan, TNI, Polri, serta instansi terkait terus diperkuat. Pemerintah kabupaten dan kota juga didorong meningkatkan pemantauan kawasan hutan dan lahan yang rawan terbakar.
Mian menyebut kondisi titik panas di Bengkulu sejauh ini relatif terkendali. Namun, situasi tersebut bukan alasan untuk mengendurkan pengawasan, mengingat kebakaran dapat meluas apabila penanganan terlambat dilakukan.
Pemerintah desa juga diminta aktif mengingatkan masyarakat, khususnya petani, agar tidak menggunakan api untuk membuka lahan. Prinsip *zero burning* atau tanpa pembakaran harus menjadi komitmen bersama.
“Alhamdulillah, titik panas di Provinsi Bengkulu bisa kita eliminasi dan jumlahnya relatif terkendali. Ini bukan berarti kita diam. Imbauan kepada pelaku usaha terus dilakukan, termasuk melalui kepala desa agar masyarakat tidak mengelola lahan dengan cara membakar,” jelasnya.
Ia menegaskan, pencegahan karhutla bukan sekadar upaya menjaga kawasan hutan dan perkebunan. Kebakaran juga berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi, merusak lingkungan, serta mengancam keselamatan dan kesehatan masyarakat akibat paparan asap.
Disisi lain, Pemprov Bengkulu turut mewaspadai dampak musim kemarau terhadap kesehatan warga. Data yang disampaikan Mian mencatat 15.961 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Bengkulu selama Januari hingga September.
Angka tersebut menjadi perhatian pemerintah, terutama apabila kebakaran hutan dan lahan memicu penurunan kualitas udara. Dinas Kesehatan, puskesmas, dan posyandu diminta meningkatkan pelayanan, memperkuat edukasi, serta mengoptimalkan deteksi dini terhadap gangguan pernapasan.
“Dinas Kesehatan terus melakukan peningkatan layanan. Kita berharap kasus ISPA di Provinsi Bengkulu dapat dikendalikan dengan baik,” ungkapnya.
Mian menambahkan, sesuai arahan Gubernur Bengkulu Helmi Hasan, upaya mitigasi bencana terus dilakukan melalui langkah nyata dan koordinasi antarpihak, disertai doa agar Bengkulu terhindar dari berbagai bencana.
Pemerintah berharap curah hujan kembali meningkat sehingga risiko kebakaran dapat ditekan. Namun, Mian menekankan bahwa pencegahan tetap harus menjadi prioritas selama ancaman musim kemarau masih berlangsung. ***