Berita Terkini
PENARAFFLESIA - Tidak bisa dipungkiri pandemi COVID-19 telah membawa dampak yang berlipat-lipat bagi kemerosotan ekonomi hingga ke pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia, termasuk di Provinsi Bengkulu.
Anggota komisi III DPRD Provinsi Bengkulu Suhardi, DS mengatakan, mayoritas pelaku UMKM di Bengkulu banyak yang mengalami penurunan pendapatan secara drastis, bahkan sampai gulung tikar akibat kehilangan daya beli dalam dua tahun belakangan ini. “Produk kerajinan mengalami penurunan luar biasa, karena semua tutup di awal pandemi. Tapi kini mulai ada permintaan lagi,” katanya.
Suhardi, DS juga mengatakan, pihaknya terus berupaya mendorong UMKM untuk bangkit di tengah keterpurukan akibat pandemi COVID-19. “Alhamdulillah, sudah kita mulai transisi dari pandemi ke endemi. Jadi yang harus kita lakukan hari ini pemulihan ekonomi. Artinya, pemulihan ekonomi itu yang sangat tergantung kepada UMKM,” tegasnya.
Makanya komisi kami memfokuskan pemulihan ekonomi UMKM kepada kondisi normal atau sebelum pandemi virus Corona memporak-porandakan perekonomian Bengkulu. Termasuk juga di antaranya sektor pariwisata, karena tengah ikut terpuruk guna membangkitkan kembali kepada kondisi normal. “Ini menjadi konsentrasi kita, inovasi-inovasi di dinas yang ada perekonomian kita dorong dan program harus lebih inovatif lagi terfokus, terutama UMKM. “Di antaranya Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan adanya bunga rendah dan porsi Kredit Usaha Rakyat (KUR) merupakan upaya mendorong pemulihan ekonomi UMKM,” paparnya
Ke depan porsi KUR ditambah agar penyerapan kredit oleh UMKM, terutama lembaga pembiayaan perbankan meningkat saat ini mencapai 19,8 persen, dan pada 2024 ditargetkan porsi kredit perbankan terhadap UMKM sebesar 30 persen. “Hal ini menjadi salah satu upaya agar semua pihak terlibat dalam pengarusutamaan UMKM, karena selama ini UMKM menjadi bemper ekonomi saat terjadi krisis,” pungkasnya. (Red)